Jumat, 14 Juni 2013

Kisah Keluarga Yahudi Yang Masuk Islam

Cohen dan Keluarganya
Berikut kisah keluarga Yahudi yang masuk Islam disebabkan bersihnya akidah Islam (Tauhid). Tetapi sayangnya malah masih ada disekitar kita orang yang mengaku muslim tetapi merusak akidahnya dengan berdo'a melalui perantara-perantara seperti kuburan dll.

Pada tahun 1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS, hijrah ke Israel karena keyakinannya yang sangat kuat pada Yudaisme. Ia kemudian tinggal di pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel mundur dari Gaza pada 2005). 

Cohen tak pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi seorang muslim setelah ia bertemu dengan seorang Syeikh asal Uni Emirat Arab dan berdiskusi tentang teologi dengan Syeikh tersebut lewat internet. 

Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya menjadi Yousef Al-Khattab. Tak lama setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi muslim. 

Sekarang Yousef Al-Khattab aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam. 

"Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya, kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi yang fanatik dengan entitas keyahudiannya 'kami tidak memiliki pilihan lain selain memutuskan kontak untuk saat ini', kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang saya barbar," tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya sekarang. 

Ia mengakui, berdakwah tentang Islam di kalangan Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam adalah, mengatakan bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang kemudian diteruskan oleh para sahabat dan penerusnya hingga sekarang. 

"Cara yang paling baik untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama untuk semua umat manusia adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat AlQur'an dan yang membedakan antara umat manusia adalah ketakwaannya pada Allah semata," ujar Yousef. 

"Islam bukan agama yang rasis, kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, firman Allah dan perkataan Rasulullah SAW. Kita berjuang bukan untuk membenci kaum kafir, kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin membunuh kita, yang menjajah tanah air kita, yang menyebarkan kemunkaran dan ideologi Barat di negeri kita misalnya ideologi demokrasi," sambung Yousef. 

Ia mengatakan bahwa dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya dalam masalah tauhid. Agama Yahudi, kata Yousef percaya pada perantara dan perantara mereka adalah para rabbi. 
Orang-orang Yahudi berdo'a lewat perantara rabbi-rabbi mereka. 

"Yudaisme adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeda dengan Islam, agama yang berbasis pada AlQur'an dan Sunnah. Dan keyakinan pada Islam tidak akan pernah berubah, di semua masjid diseluruh dunia, AlQur'an yang kita dengarkan adalah AlQur'an yang sama," ujar Yousef. 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Yudaisme disisi lain berpatokan pada 'tradisi oral' misalnya kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut ke mulut yang kemudian dibukukan. Para rabbi sendiri, kata Yousef mengakui bisa saja banyak hal yang sudah orang lupa sehingga keabsahan kitab tersebut bisa dipertanyakan. 

Yousef mengungkapkan, kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang memiliki sebelas versi yang berbeda dan naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli. 
"Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat pada kita semua dengan agama yang mudah dimana banyak orang yang bisa menghafal AlQur'an dari generasi ke generasi. Allah memberkati kita semua dengan AlQur'an," tukas Yousef. 

Meski demikian, ia meyakini bahwa dialog adalah cara terbaik dalam berdakwah terutama dikalangan Yahudi. Ditanya tentang kelompok-kelompok Yahudi yang mengklaim Anti-Zionis. Yousef menjawab bahwa secara pribadi maupun dari sisi religius, ia tidak percaya dengan yahudi-yahudi yang mengklaim Anti-Zionis. "Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi (selain nabi Isa, tentunya), oleh sebab itu saya tidak pernah percaya pada mereka, meski Islam selalu menunjukkan sikap yang baik pada mereka," paparnya. 

Yousef menegaskan bahwa pernyataannya itu bukan untuk membela orang-orang Palestina ataupun atas nama seorang muslim. Pernyataan itu merupakan pendapat pribadinya. "Allah Maha Tahu," tandasnya. 

Sebagai orang yang pernah tinggal di pemukiman Yahudi di wilayah Palestina, Yousef mengakui adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah Israel terhadap muslim Palestina. Ia sendiri pernah dipukul oleh tentara-tentara Israel meski tidak seburuk perlakuan tentara-tentara Zionis itu kepada warga Palestina. 

"Saya masih beruntung, penderitaan yang saya alami tidak seburuk penderitaan saudara-saudara kita di Afghanistan yang berada di bawah penjajahan AS atau saudara-saudara kita yang berada di kamp penjara AS di Kuba (Guantanamo)." imbuhnya dengan rasa syukur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Aprudin, S.Pd.I

Foto saya
Medan, Sumatera Utara, Indonesia
"Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu, dan bersyukurlah karena orang yang selalu menemukan alasan untuk bersyukur adalah orang yang jauh lebih kuat dari pada orang yang selalu mencari alasan ‘tuk mengeluh". ""el √©xito siempre estar√° con nosotros"