Jumat, 01 Juni 2012

Inilah Cara Mengatasi Kekecewaan Usai Gagal Menikah

img
 
Ternyata 64% orang mengaku pernah gagal menikah. Mereka yang mengalami pembatalan pernikahan ini tentunya merasa sedih, kecewa dan terpuruk.

Marsha salah satu wanita yang batal menikah pada 2006 lalu. Ia batal naik pelaminan dengan Dion, setelah pria tersebut mendadak membatalkan rencana pernikahan mereka enam bulan sebelum hari-H.

"Gue sedih, shock, ya segala macam. Apalagi gue tahu ternyata dia putus karena mau balikan dan nikah sama mantannya," ujar Marsha seorang pegawai di perusahaan yang bergerak di dunia pendidikan itu saat berbincang dengan wolipop, Jumat (4/5/2012).

Marsha semakin sedih karena persiapan pernikahannya sudah cukup jauh dilakukan. Dia dan Dion sudah memesan gedung dan akan membuat baju pengantin. Mereka juga tengah melakukan survei catering dan telah membeli seperangkat tempat tidur.

Perasaan serupa dirasakan Koko yang pernah mengalami dua kali gagal menikah. Saat pertama kali gagal menikah pada Mei 2006 dia merasa sedih dan kecewa. Baginya kekasihnya tersebut adalah wanita pertama yang ia ajak untuk menikah dan membina hubungan serius.

Kekecewaannya semakin mendalam saat tahu ternyata kekasihnya saat itu ternyata membatalkan pernikahan karena sudah dijodohkan orangtuanya. "Gue sedih lah, kaget, soalnya dia bilang udah dijodohin dari kecil dan itu amanat dari almarhum ayahnya," tutur Koko yang bekerja sebagai konsultan keuangan itu.

Kegagalan menikah kembali dialaminya pada Januari 2012 lalu. Namun perasaannya tidak terlalu sedih karena sebelumnya sudah mengalami hal serupa. Batalnya pernikahan tersebut juga sesuai kesepakatan dia dan mantan kekasihnya.

Dua kali gagal menikah, apa saja yang dilakukan Koko untuk mengatasi perasaan kecewanya? Pria 32 tahun itu mencoba introspeksi diri. Dia juga memilih menghabiskan waktu dengan banyak bertemu teman-temannya, travelling dan touring yang memang menjadi hobinya.

Kejadian batal menikah itu juga jadi pelajaran berarti untuk Koko. "Sekarang ketika ketemu seseorang yang baru berusaha lebih fleksibel, lebih memahami sifat si ceweknya, nggak terlalu saklek. Lebih jaga emosi. Cari yang benar-benar satu visi," urainya.

Sementara Marsha, untungnya dia bisa cepat menemukan cinta baru dalam hidupnya. Sehingga dia tidak terlalu lama tenggelam dalam kesedihan. "Buat ngatasinnya, gue butuh orang yang bisa bikin gue ketawa, ya at least untuk ngalihin perasaan sedih. Untungnya sih dua bulan setelah pembatalan itu gue ketemu orang baru," jelasnya.

Hubungan dengan kekasih barunya itu berjalan selama setahun. Mereka kemudian putus karena merasa terlalu banyak perbedaan. Kini Marsha tengah menjalin asmara dengan seorang pria berusia 10 tahun lebih muda darinya. "Kita punya tujuan hidup yang sama. Ke depannya kayak apa? We'll see. Yang penting sekarang gue happy," ujarnya.

Menurut psikolog Ratih Ibrahim, peristiwa gagal menikah ini memang pastinya akan membuat orang merasa malu dan kecewa. Namun jangan sampai perasaan tersebut membuat Anda berlarut-larut terpuruk.

"Pikirin aja, mungkin ini adalah cara Tuhan untuk menyelamatkan hidupmu di masa depan. Mikirnya gitu. Everything is about your mindset. Kan tinggal dibuktiin siapa nih yang sial, dia apa gue? Jadi elo move on," jelasnya (http://wolipop.detik.com).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Aprudin, S.Pd.I

Foto saya
Medan, Sumatera Utara, Indonesia
"Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu, dan bersyukurlah karena orang yang selalu menemukan alasan untuk bersyukur adalah orang yang jauh lebih kuat dari pada orang yang selalu mencari alasan ‘tuk mengeluh". ""el √©xito siempre estar√° con nosotros"