Sabtu, 13 Juli 2013

Kagumi Alquran, Wanita Jerman Menjadi Muslimah

 Aminah Amatullah Aminah Amatullah percaya kepada Tuhan meski tidak pernah merasa terlalu religius. Ia besar dalam tradisi Protestan di Hannover, Jerman.
Namun, ia tidak pernah merasa perlu datang ke gereja. Ini karena, ia percaya siapa pun dapat berdoa dimana saja.

"Aku ketika berdoa ditujukan kepada Allah bukan Yesus. Aku juga tidak pernah ke gereja, karena itu tidak perlu," kenang dia seperti dikutip onislam.net, Selasa (18/6).

Memasuki usia 22 tahun, Aminah menikah dengan seorang Katholik dan memiliki tiga anak. Kepada anak-anaknya, ia mengajarkan bahwa Allah dekat dengan mereka. Dan Allah melindungi keluarganya melalui malaikat-Nya.

Ia begitu bahagia dengan keluarga kecilnya. Sayang, keharmonisan itu perlahan sirna. Ini menjadi titik balik Aminah untuk lebih dekat kepada sang Pencipta.

Sekitar tahun 1998, Aminah memutuskan pindah ke Wernigerode, kota kecil di Timur Jerman. Di sana, ia berharap bisa menyelamatkan pernikahannya. Ia juga mulai kembali bekerja. Di tempatnya bekerja, Aminah bertemu seorang Muslim. Saat itu, Aminah tidak tahu banyak soal Islam dan Muslim.

Setahun kemudian, Aminah tanpa sadar mulai menerima perilaku seorang Muslim terlepas apakah perilaku itu baik atau tidak. Ia merasa menjadi lebih kuat. Padahal pernikahannya terancam bubar.

"Allah SWT memang punya cara misterius," kata dia.

Beberapa bulan kemudian, ia bertemu seorang pria Muslim via internet. Ketika menyambangi laman pribadi pria Muslim itu, ia menemukan link, asmaul husna dan Alquran. Sekelebat Aminah membaca Alquran. Kesan kagum muncul pada diri Aminah ketika selesai membacanya.

Beberapa pekan kemudian, Aminah menuju Macedonia. Di negara ini, Aminah mencoba untuk mendalami ajaran Islam. Melalui bimbingan pria Muslim itu, Aminah mulai menerima ajaran Islam. Satu momen, muncul keinginan kuat dalam dirinya untuk menjadi Muslim.

"Satu malam, saya bermimpi menemukan kucing kesayangan anak-anak mati. Mimpi itu seolah mengingatkanku untuk segera mengambil keputusan, sebelum Allah SWT kembali memanggilku," kenang dia.

Ketika semakin mantap, Aminah merasa bingung karena sulit menemukan komunitas Muslim di Macedonia. Ia pun kembali ke Jerman. Di sana ia menyambangi Braunschweig, kota kecil di Barat Jerman. Setibanya, ia menyambangi masjid, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Momen itu mendapat simpati umat Islam di daerah itu.

Selesai bersyahadat, Aminah berencana memberitahu keluarga dan kerabatnya. Ketika diberitahu, keluarganya sangat terkejut. Tidak ada lagi yang ingin berbicara padanya. Aminah merasa sedih dengan hal tersebut.

"Tapi aku tidak mungkin meninggalkan iman hanya karena keluarga dan teman-teman saya," kata dia.

Tak lama, Aminah mulai mengenakan jilbab. Gaya berbusana yang serba terbuka perlahan diganti dengan gaya santun dan sopan. Ketika memakai jilbab, Aminah merasakan kenikmatan yang tak bisa diungkap. 

"Memang masyarakat Jerman belum sepenuhnya menerima jilbab. Tapi aku tidak menyesali putusan ini," kenangnya.

"Tidak menjadi Muslim yang sempurna, tapi aku bersyukur pada Allah atas anugerahnya ini. Semoga Allah memberikan balasan kepada mereka yang membantu saya kembali pada Islam," ucapnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Aprudin, S.Pd.I

Foto saya
Medan, Sumatera Utara, Indonesia
"Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu, dan bersyukurlah karena orang yang selalu menemukan alasan untuk bersyukur adalah orang yang jauh lebih kuat dari pada orang yang selalu mencari alasan ‘tuk mengeluh". ""el √©xito siempre estar√° con nosotros"